Minggu, 22 Desember 2013

PSIKOLOGI MANAJEMEN



A.    Mempengaruhi Perilaku
-          Definisi Pengaruh
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (seseorang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.
Menurut Badudu dan Zain, pengaruh adalah daya yang menyebabkan sesuatu yang terjadi, sesuatu yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain dan tunduk atau mengikuti karena kuasa atau kekuatan orang lain.
Jadi, dapat disimpulkan pengaruh adalah suatu daya yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain karena kuasa orang lain.
-          Kunci-kunci Perubahan Perilaku
Ø  Courage: diperlukan keberanian,kebulatan,tekad dan keteguhan hati
Ø  High confidence : kekuatan penggerak hidup anda
Ø  Attitude: mental yang positif
Ø  New action: tindakan yang benar-benar konsisten
Ø  Goal: target atau tujuan yang benar-benar diinginkan
Ø  Excellence :menjadi yang terbaik
-          Model Mempengaruhi Perilaku
Perannya dalam Psikologi Manajemen
Model kepemimpinan didasarkan pada pendekatan yang mengacu pada hakikat kepemimpinan yang berlandaskan pada perilaku dan keterampilan seseorang yang berbaur kemudian membentuk gaya kepemimpinan yang berbeda.

B.    Kekuasaan
-          Definisi Kekuasaan
Kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku atau Kekuasaan merupakan kemampuan memengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi.
-          Sumber-sumber Kekuasaan menurut French & Raven
Adapun sumber kekuasaan menurut French & Raven, yaitu :
1). Kekuasaan Paksaan (Coercive Power)
Kekuasaan imbalan seringkali dilawankan dengan kekuasaan paksaan, yaitu kekuasaan untuk menghukum. Hukuman adalah segala konsekuensi tindakan yang dirasakan tidak menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Pemberian hukuman kepada seseorang dimaksudkan juga untuk memodifikasi perilaku, menghukum perilaku yang tidak baik/merugikan organisasi dengan maksud agar berubah menjadi perilaku yang bermanfaat. Para manajer menggunakan kekuasaan jenis ini agar para pengikutnya patuh pada perintah karena takut pada konsekuensi tidak menyenangkan yang mungkin akan diterimanya. Jenis hukuman dapat berupa pembatalan pemberikan konsekwensi tindakan yang menyenangkan; misalnya pembatalan promosi, pembatalan bonus, maupun pelaksanaan hukuman seperti skors, PHK, potong gaji, teguran di muka umum, dan sebagainya. Meskipun hukuman mungkin mengakibatkan dampak sampingan yang tidak diharapkan, misalnya perasaan dendam, tetapi hukuman adalah bentuk kekuasaan paksaan yang masih digunakan untuk memperoleh kepatuhan atau memperbaiki prestasi yang tidak produktif dalam organisasi.

2). Kekuasaan Imbalan (Insentif Power)
Kemampuan seseorang untuk memberikan imbalan kepada orang lain (pengikutnya) karena kepatuhan mereka. Kekuasaan imbalan digunakan untuk mendukung kekuasaan legitimasi. Jika seseorang memandang bahwa imbalan, baik imbalan ekstrinsik maupun imbalan intrinsik, yang ditawarkan seseorang atau organisasi yang mungkin sekali akan diterimanya, mereka akan tanggap terhadap perintah. Penggunaan kekuasaan imbalan ini amat erat sekali kaitannya dengan teknik memodifikasi perilaku dengan menggunakan imbalan sebagai faktor pengaruh. 

3). Kekuasaan Sah (Legitimate Power)
Kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain karena posisinya. Seorang yang tingkatannya lebih tinggi memiliki kekuasaan atas pihak yang berkedudukan lebih rendah. Dalam teori, orang yang mempunyai kedudukan sederajat dalam organisasi, misalnya sesama manajer, mempunyai kekuasaan legitimasi yang sederajat pula. Kesuksesan penggunaan kekuasaan legitimasi ini sangat dipengaruhi oleh bakat seseorang mengembangkan seni aplikasi kekuasaan tersebut. Kekuasaan legitimasi sangat serupa dengan wewenang. Selain seni pemegang kekuasaan, para bawahan memainkan peranan penting dalam pelaksanaan penggunaan legitimasi. Jika bawahan memandang penggunaan kekuasaan tersebut sah, artinya sesuai dengan hak-hak yang melekat, mereka akan patuh. Tetapi jika dipandang penggunaan kekuasaan tersebut tidak sah, mereka mungkin sekali akan membangkang. Batas-batas kekuasaan ini akan sangat tergantung pada budaya, kebiasaan dan sistem nilai yang berlaku dalam organisasi yang bersangkutan.

4). Kekuasaan Pakar (Expert Power)
Seseorang mempunyai kekuasaan ahli jika ia memiliki keahlian khusus yang dinilai tinggi. Seseorang yang memiliki keahlian teknis, administratif, atau keahlian yang lain dinilai mempunyai kekuasaan, walaupun kedudukan mereka rendah. Semakin sulit mencari pengganti orang yang bersangkutan, semakin besar kekuasaan yang dimiliki. Kekuasaan ini adalah suatu karakteristik pribadi, sedangkan kekuasaan legitimasi, imbalan, dan paksaan sebagian besar ditentukan oleh organisasi, karena posisi yang didudukinya. 
Contohnya ; Pasien-pasien dirumah sakit menganggap dokter sebagai pemimpin atau panutan karena dokterlah uang dianggap paling ahli untuk menyembuhkan penyakit

5). Kekuasaan Rujukan (Referent Power)
Banyak individu yang menyatukan diri dengan atau dipengaruhi oleh seseorang karena gaya kepribadian atau perilaku orang yang bersangkutan. Karisma orang yang bersangkutan adalah basis kekuasaan panutan. Seseorang yang berkarisma ; misalnya seorang manajer ahli, penyanyi, politikus, olahragawan; dikagumi karena karakteristiknya. Pemimpin karismatik bukan hanya percaya pada keyakinan – keyakinannya sendiri (factor atribusi), melainkan juga merasa bahwa ia mempunyai tujuan-tujuan luhur abadi yang supernatural (lebih jauh dari alam nyata). Para pengikutnya, di sisi lain, tidak hanya percaya dan menghargai sang pemimpin, tetapi juga mengidolakan dan memujanya sebagai manusia atau pahlawan yang berkekuatan gaib atau tokoh spiritual (factor konsekuensi). Jadi, pemimpin kharismatik berfungsi sebagai katalisator dari psikodinamika yang terjadi dalam diri para pengikutnya seperti dalam proses proyeksi, represi, dan regresi yang pada gilirannya semakin dikuatkan dalam proses kebersamaan dalam kelompok. Dalam masa puncaknya, Bung Karno misalnya; diberi gelar paduka yang mulia, Panglima Besar ABRI, Presiden seumur hidup, petani agung, pramuka agung, dan berbagai gelar yang lainnya.
C. Teori-teori Leadership
-          Definisi Leadership
Leadership (Kepemimpinan), berasal dari kata pimpin yang memuat dua hal pokok yaitu: pemimpin sebagai subjek dan yang dipimpin sebagai objek. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.
Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama.
-          Teori Kepemimpinan Partisipatif
Ø  Teori X dan Y dari Douglas Mc. Gregas
Teori X dan Teori Y adalah teori motivasi manusia diciptakan dan dikembangkan oleh Mc. Gregas di Sloan School of Management MIT pada tahun 1960 yang telah digunakan dalam manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, komunikasi organisasi dan pengembangan organisasi. Teori ini diungkapkan oleh Douglas Mc. Gregas yang mengemukakan strategi kepemimpinan efektif dengan menggunakan konsep manajemen partisipasi. Konsep terkenal dengan menggunakan asumsi-asumsi sifat dasar manusia. Pemimpin yang menyukai teori X cenderung menyukai gaya kepemimpinan otoriter dan sebaliknya, seorang pemimpin yang menyukai teori Y lebih menyukai gaya kepemimpinan demokratik. Untuk kriteria karyawan yang memiliki tipe teori X adalah karyawan dengan sifat yang tidak akan bekerja tanpa perintah, sebaliknya karyawan yang memiliki tipe teori Y akan bekerja dengan sendirinya tanpa perintah atau pengawasan dari atasannya. Tipe Y ini adalah tipe yang sudah menyadari tugas dan tanggung jawab pekerjaannya.
Ø  Teori Sistem Empat dari Rensis Likert
a.       Sistem 1, otoritatif dan eksploitif:
Pemimpin membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara kaku ditetapkan oleh pemimpin. Manajemen menggunakan rasa takut dan ancaman; komunikasi atas ke bawah dengan kebanyakan keputusan diambil di atas; atasan dan bawahan memiliki jarak yang jauh.
b.      Sistem 2, otoritatif dan benevolent:
Pemimpin tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan kebebasan untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut. berbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan. Manajemen menggunakan penghargaan;, informasi mengalir ke atas dibatasi untuk manajemen apa yang ingin didengar dan keputusan kebijakan sementara datang dari atas beberapa keputusan yang ditetapkan dapat dilimpahkan ke tingkat yang lebih rendah, atasan mengharapkan kepatuhan bawahan
c.       Sistem 3, konsultatif:
Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah setelah hal-hal itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat keputusan – keputusan mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman. Manajemen menawarkan hadiah, kadang-kadang hukuman; keputusan besar datang dari atas sementara ada beberapa yang lebih luas keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan komunikasi rincian ke bawah ke atas sementara komunikasi penting hati-hati.
d.      Sistem 4, partisipatif:
Sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana organisasi seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan keputusan-keputusan kerja dibuat oleh kelompok. Bila pemimpin secara formal yang membuat keputusan, mereka melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota kelompok. Untuk memotivasi bawahan, pemimpin tidak hanya mempergunakan penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting. Manajemen kelompok mendorong partisipasi dan keterlibatan dalam menetapkan tujuan kinerja yang tinggi dengan beberapa penghargaan ekonomi; komunikasi mengalir ke segala arah dan terbuka dan jujur dengan pengambilan keputusan melalui proses kelompok dengan masing-masing kelompok terkait dengan orang lain dengan orang-orang yang menjadi anggota lebih dari satu kelompok yang disebut menghubungkan pin; dan bawahan dan atasan dekat. Hasilnya adalah produktivitas yang tinggi dan lebih baik hubungan industrial.
Ø  Theory of Leadership Pattern Choice dari Tannebaum & Scmidt
Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara, yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis. Perilaku otokratis, pada umumnya dinilai bersifat negatif, di mana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan. Jadi otoritas berada di tangan pemimpin, karena pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh, sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman. Selain bersifat negatif, gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain, pengambilan keputusan cepat, dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. Selain itu, orientasi utama dari perilaku otokratis ini adalah pada tugas. Perilaku demokratis; perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk mencapai tujuan, di mana si pemimpin senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi dan keputusan kelompok.
-          Modern Choice Approach to Participation
Menurut teori ini gaya kepemimpinan yang tepat ditentukan oleh corak persoalan yang dihadapi oleh macam keputusan yang harus diambil. Model teori ini dapat digunakan untuk:
a.        Membantu mengenali berbagai jenis situasi pemecahan persoalan secara berkelompok (group problem solving situation).
b.       Menyarankan gaya kepemimpinan mana yang dianggap layak untuk setiap situasi.
Ada tiga perangkat parameter yang penting yaitu klasifikasi gaya kepemimpinan, kriteria efektifitas keputusan, kriteria penemukenalan jenis pemecahan persoalan.
Misalnya seorang dokter yang mengambil keputusan untuk melakukan operasi terhadap pasien yang mengalami kecelakaan tanpa dia harus berkonsultasi terlebih dahulu terhadap staf-stafnya dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya.
Dari sini dapat dilihat bahwa gaya pengambilan keputusan yang diambil oleh dokter tersebut merupakan gaya pengambilan keputusan A-1 yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang dimana dia mengambil keputusannya sendiri dalam memecahkan persoalan dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya.
-          Contingency Theory of Leadership dari Fiedler
a.       Model ini menyatakan bahwa keefektifan suatu kelompok bergantung pada:
 Hubungan dan interaksi pemimpin dan bawahannya.
b.      Sejauh mana pemimpin mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi. Dalam hal yang pertama dapat dinilai dengan kuisoner LPC (Least Prepered Coworker).
c.        Jika skor LPC tinggi, maka pemimpin berorientasi pada hubungan.
d.       Jika skor LPC rendah, maka pemimpin berorientasi pada tugas.
Misalnya didalam lingkungan bermasyarakat ketua RT setiap minggunya mengajak masyarakatnya untuk melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar. Dimana kerja bakti tersebut diadakan agar mempererat hubungan antara ketua RT dengan warganya dan warga dengan sesama warga yang lain. Dalam kerja bakti tersebut ketua RT membimbing warganya untuk sama-sama bekerjasama dan dari kegiatan tersebut dapat diperoleh suatu manfaat agar ketua RT dapat mengenal warga lebih jauh dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama.Tujuan ketua RT bukan hanya untuk menjadikan kampungnya bersih,tetapi lebih kepada mempererat hubungan interpersonal diantara mereka.
Dari sini dapat dilihat bahwa ketua RT tersebut memilik skor LPC yang tinggi. Karena dia lebih berfokus pada hubungan dengan warganya.
-          Path Goal Theory
Model path-goal menganjurkan bahwa kepemimpinan terdiri dari dua fungsi dasar:
a.       Fungsi pertama; member kejelasan alur.
b.       Fungsi kedua; adalah meningkatkan jumlah hasil (reward) bawahannya.
Misalnya di darerah Cipayung diadakan arisan peket sembako, dimana ketua arisan paket sembako setiap tiga bulan sekali mengadakan rapat dengan para koordinator untuk meningkatkan kinerja koordinator. Didalam rapat tersebut para koordinator memberikan saran untuk memperbaiki hasil dari isi paket sembako tersebut, mengadakan hiburan setiap dua bulan sekali dan ketua arisannya juga berkonsultasi kepada mereka dalam pengelolahan keuangan dari arisan tersebut.
D.      Motivasi
-          Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa Latin movere yang berarti bergerak atau bahasa Inggrisnya to move. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dengan faktor-faktor lain, baik faktor eksternal, maupun faktor internal. Hal-hal yang mempengaruhi motof disebut motivasi.
Jadi motivasi menurut Walgito adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan. Sedangkan menurut Plotnik, motivasi mengacu pada berbagai faktor fisiologi dan psikologi yang menyebabkan seseorang melakukan aktivitas dengan cara yang spesifik pada waktu tertentu.
-          Teori Drive Reinforcement & Implikasi Praktisnya
Teori ”drive” bisa diuraikan sebagai teori-teori dorongan tentang motivasi, perilaku didorong ke arah tujuan oleh keadaan-keadaan yang mendorong dalam diri seseorang atau binatang. Contohnya., Freud ( 1940-1949 ) berdasarkan ide-idenya tentang kepribadian pada bawaan, dalam kelahiran, dorongan seksual dan agresif, atau drive (teorinya akan diterangkan secara lebih detail dalam bab kepribadian). Secara umum , teori-teori drive mengatakan hal-hal berikut : ketika suatu keadaan dorongan internal muncul, individu di dorong untuk mengaturnya dalam perilaku yang akan mengarah ke tujuan yang mengurangi intensitas keadaan yang mendorong. Pada manusia dapat mencapai tujuan yang memadai yang mengurangi keadaan dorongan apabila dapat menyenangkan dan memuaskan. Jadi motivasi dapat dikatakan terdiri dari:
a. Suatu keadaan yang mendorong
b.Perilaku yang mengarah ke tujuan yang diilhami oleh keadaan terdorong
c. Pencapaian tujuan yang memadai
d. Pengurangan dan kepusaan subjektif dan kelegaan ke tingkat tujuan yang tercapai
Setelah keadaan itu, keadaan terdorong akan muncul lagi untuk mendorong perilaku ke arah tujuan yang sesuai. Pengulangan kejadian yang baru saja diuraikan seringkali disebut lingkaran korelasi. Teori-teori Drive berbeda dalam sumber dari keadaan terdorong yang memaksa manusia atau binatang bertindak. Beberapa teori, termasuk teori Freud, dipahami oleh keadaan terdorong sejak belum lahir, atau instingtif. Tentang perilaku binatang, khususnya ahli ethologi telah mengusulkan suatu penjelasan suatu mekanisme dorongan sejak kelahiran (tinbergen, lorenz, dan leyhausen dalam morgan, dkk. 1986). Teori-teori drive yang lain telah mengembangkan peran belajar dalamkeaslian keadaan terdorong. Contohnya, dorongan yang di pelajari (learned drives), seperti mereka sebut, keaslian dalam latihan seseorang atau binatang atau pengalaman masa lalu dan yang berbeda dari satu individu ke individu yang lain. Karena penggunaan minuman keras sebelumnya, ketagihan heroin, contohnya mengembangkan suatu dorongan untuk mendapatkan hal tersebut, dan karena itu mendorong ke arah itu. Dan dalam realisasi motif sosial, orang telah belajar dorongan untuk kekuasaan, agresi atau prestasi. Keadaan terdorong yang dipelajari menjadi ciri abadi dari orag tertentu dan mendorong orang itu ke arah tujuan yang memadai, orang lain mungkin belajar motif sosial yang lain dan didorong ke arah tujuan yang berbeda. Teori reinforcement Teori ini mempunyai dua aturan pokok, aturan pokok yang berhubungan dengan perolehan jawaban-jawaban yang benar dan aturan pokok lain yang berhubungan dengan penghilangan jawaban-jawaban yang salah. Pengukuran dapat terjadi positif (pemberian ganjaran untuk satu jawaban yang didinginkan ) atau negatif ( menghilangkan satu rangsang aversif jika jawaban yang didinginkan telah diberikan ), tetapi organisme harus membuat antara akasi atau tindakannya dengan sebab akibat.
Siegel dan Lane (1982), mengutip Jablonke dan De Vries tentang bagaimana manajemen dapat meningkatakan motivasi tenaga kerja., yaitu dengan:
1. Menentukan apa jawaban yang diinginkan
2. Mengkomunikasikan dengan jelas perilaku ini kepada tenaga kerja.
3. Mengkomunikasikan dengan jelas ganjaran apa yang akan diterima. Tenaga kerja jika jawaban yang benar terjadi
4. Memberikan ganjaran hanya jika jika jawaban yang benar dilaksanakan.
5. Memberikan ganjaran kepada jawaban yang diinginkan, yang terdekat dengan kejadiannya.
-          Teori Hiekarki Kebutuhan Maslow
Menurut Maslow ada 5 jenis kebutuhan manusia yang tersusun secara bertingkat sebagai suatu hiekarki, yaitu :
a.       Tingkat 1 : Kebutuhan-kebutuhan fisik, misalnya makanan, air, seks dan tidur.
b.      Tingkat 2 : Kebutuhan akan keamanan, misalnya perlindungan dari kejahatan.
c.       Tingkat 3 : Kebutuhan akan rasa cinta dan diterima, misalnya affiliasi dengan individu-individu lain dan diterima oleh individu-individu lain.
d.      Tingkat 4 : Kebutuhan akan penghargaan, misalnya prestasi, kompetensi, memperoleh pengakuan dan penghargaan.
e.      Tingkat 5 : Aktualisasi diri. Pemenuhan potensi keunikan seseorang.
-          Kebutuhan yang relavan dengan perilaku dalam organisasi
Ada 4 metode pembentukan perilaku dalam organisasi, yaitu :
a.       Penguatan positif : bila suatu respon diikuti dengan sesuatu yang menyenangkan, misalnya pujian.
b.       Penguatan negatif : bila suatu respon diikuti oleh dihentikannya atau ditarik kembalinya sesuatu yang tidak menyenangkan, misalnya berpura-pura bekerja lebih rajin sangat pengawas berkeliling.
c.       Hukuman :  mengakibatkan suatu kondisi yang tidak enak dalam suatu usaha untuk menyingkirkan perilaku yang tidak diinginkan. Misalnya : Penskorsan.
d.      Pemunahan : menyingkirkan penguatan apa saja yang mempertahankan perilaku. Misalnya tidak mengabaikan masukan dari bawahan akan menghilangkan keinginan mereka untuk menyumbangkan pendapat.
Maka, dapat dinyatakan kebutuhan yang relavan dengan perilaku dalam organisasi adalah dimana adanya penguatan positif dan negatif agar terbentuknya suatu respon yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Serta adanya hukuman dan pemunahan agar menyingkirkan perilaku yang tidak diinginkan ataumenghilangkan suatu keinginan.


Daftar Pustaka :

ebookbrowsee.net

wikipedia.com

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 2005.



Sunyoto Munandar, Ashar (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia.

Sihotang. A. Drs. M.B.A. (2006).Menejemen Sumber Daya Manusia .Jakarta : PT Pradnya Paramita.
Karjadi. M.(1987). Kepemimpinan ( Leadership ), Bogor.
 Basuki, Heru, Dr. A.M. MSi.(2008). Psikologi Umum, Jakarta : Universitas Gunadarma.

P.Siagian, Sondang, Prof. Dr. MPA.(1988). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta : Rineka Citra.
Greenberg J. & Baron RA.(1996) Behavior in Organizations: Understanding & Managing The Human Side of Work, Prentice Hall International Inc.

Senin, 02 Desember 2013

Perbedaan Budaya Barat dan Budaya Timur


A. Berikut ini adalah hasil research yang saya temukan melalui situs anggayasha :
Gambar-gambar di bawah ini adalah hasil research tentang perbedaan budaya barat dan timur.
Pendapat/ opini

Kalau budaya barat, langsung ke pusat sasaran.
Kalau budaya timur, berputar-putar terlebih dahulu baru sampai ke titik akhir.
Gaya hidup/lingkungan dengan sesama

Budaya barat lebih senang sendiri.
Budaya timur beramai-ramai.
Ketepatan waktu

Budaya barat, tepat waktu.
Budaya timur, jam karet.
Kontak dengan sesama manusia

Budaya barat, hanya segilintir saja.
Budaya timur, hampir mengenal satu sama lain.
Tingkat kemarahan

Budaya barat, kalau dia bilang dia sebel sama kamu, di otak dia ya dia sebel sama kamu.
Budaya timur, mencoba tersenyum walaupun dia sendiri juga tidak suka.
Queue

Budaya barat, antri seperti gajah.
Budaya timur, antri seperti semut ngerubung.
Hari minggu di jalanan

Budaya barat, hanya beberapa orang yang berada di luar (Jalan-Jalan Sore).
Budaya timur, setiap minggu jalan-jalan (kasarnya).
Party

Budaya barat senang berkumpul berdua-dua atau bertiga (tidak banyak-banyak).
Budaya timur menjadi satu kelompok besar.
Di resto

Budaya barat, berbicara dengan nada pelan.
Budaya timur, berbicara dengan nada keras.
Jalan² ke luar kota/negri

Budaya barat, hanya melihat-lihat.
Budaya timur, jepret sana sini.
Kebiasaan menghadapi problem

Budaya barat, langsung dihadang.
Budaya timur, belok dikit…nyari jalan aman.
Makan


Barat : pagi dan malam makan dingin (bread, dll.).
Timur : pagi siang malam makan yang hangat.
Transportasi

Barat : tahun 1970 memakai mobil, tahun 2006 mamakai sepeda.
Timur : kebalikannya.
Orang tua di hari tua

Barat : jalan-jalan bersama anjing.
Timur : jalan-jalan bersama cucu.
Mood dan cuaca

Barat : cerah ok, hujan BT.
Timur : keduanya ok!
Boss

Barat : semua sama rata.
Timur : menjadi boss harus dihormati.
Yang lagi ngetop


Barat : mamakai sumpit.
Timur : mamakai garpu sama pisau.
Yang terakhir adalah anak

Barat : sama-sama mempunyai peran penting.
Timur : anak dibawah perlindungan orang tua.

B. Bahasan antara Budaya Barat dan Budaya Timur
Dari berbagai gambar ilustrasi di atas dapat dilihat dan disimpulkan bahwa perbedaan antara budaya barat dan timur memiliki perbedaan yang cukup jauh dari berbagai macam segi. Salah satunya yang ingin saya ambil disini adalah mengenai peran orang tua dalam membimbing anak dan transportasi yang digunakan serta soal waktu. Sudah banyak kita ketahui terutama di dalam negara kita sendiri yaitu di Indonesia, kebanyakan orang tua masih sangat amat mengawasi anaknya walaupun anak tersebut sudah memasuki usia yang cukup dewasa. Dimana contohnya seperti pengawasan Ibu dan Bapak terutama pada anak perempuan, sang Ibu sangat masih memperhatikannya dengan sangat hati-hati sampai-sampai sehingga membuat sang anak perempuan tersebut menjadi seperti dikekang. Hak anak perempuan dan laki-laki menjadi ada semacam diskriminasi, yaitu laki-laki seolah bebas menentukan arah jalan hidupnya dan mengejar cita-citanya, sedangkan perempuan cenderung sering diremehkan dan hanya diperbolehkan menjadi seorang istri serta Ibu untuk anak-anaknya karena alasan budaya perempuan yang dikenal memiliki sifat nerimo maka dianggapnya adalah “Ujung-ujungnya ke dapur juga”. Walaupun budaya di Indonesia kini pun memiliki banyak perubahan dan telah mengikuti zaman bahwasanya perempuan sudah bisa mendapatkan aktialisasi dirinya dan mampu menyetarai seorang laki-laki. Dalam pengasuhan anak ini, sesuai dengan konsep teroi perkembangan Freud yang dimana teori awalnya mengenai pewarisan perilaku yang mempengaruhi perkembangan anak.
Lalu yang kedua saya akan menjelaskan mengenai transportasi yang digunakan, dimana pada tahun 1970 orang-orang Barat banyak yang menggunakan transportasi mobil sedangkan orang-orang Timur kebalikannya pada tahun 2006 baru banyak sekali yang menggunakan kendaraan mobil bahkan motor sebagai kendaraan. Menurut saya hal ini dikarenakan orang-orang kita yang pemikirannya banyak yang instant tanpa perduli dampak yang akan dihasilkan pada akhirnya. Budaya Timur yang selalu hanya ingin enaknya doing, menjadi salah satu pola piker budaya yang salah. Maka dari itulah mengapa kebanyakan negara bagian Timur yang berkembang sedangkan bagian Barat menjadi negara maju. Negara Barat memang menciptakan sesuatu hal yang modern, namun mereka menyadari pentingnya untuk tetap menjaga lingkungannya. Sedangkan orang Timur hanya memikirkan keuntungan untuk dirinya saja dan keuntungan bagi alam tidak atau kurang diperhatikan. Sebenarnya hal ini juga tidak sepenuhnya salah orang Timur karena budaya Barat yang memasuki kebudayaan kita, sehingga kita merasakan enaknya apa yang telah mereka berikan sampai melupakan apa yang seharusnya kita jaga dan lindungi maka terjadilah berbagai macam akulturasi seperti sekarang ini.
Yang terakhir saya ngin membahas mengenai waktu, orang Barat memang dikenal dengan orang yang tepat waktu, berbeda dengan orang Timur yang dikenal dengan budaya jam karet pada umumnya. menurut cerita yang saya dapatkan dari seorang guru saya yang pernah tinggal di U.S.A., beliau mengatakan bahwa ketika kita ingin membuat janji pertemuan kepada seorang teman di sana, wajib membuat schedule dari waktu yang jauh sebelumnya. Mereka tidak bisa bertemu dadakan karena mereka merupakan orang-orang yang memiliki jadwal tertentu serta terstruktur. Berbeda dengan orang Timur, terutama di Indonesia sendiri bukan rahasia pribadi lagi apabila kita seringkali dengan mudah bertemu dengan seorang teman dengan jadwal dadakan maka dari itulah mengapa kita seringkali meremehkan soal waktu tanpa berpikir bahwa betapa berharganya waktu tersebut. Sehingga entah mengapa apabila kita  ingin tepat waktu, kita harus diberikan sebuah sanksi/ punishment terlebih dahulu agar dapat mematuhinya.
Inilah tugas Lintas Budaya dari saya, kurang lebihnya mohon maaf dan semoga bermanfaat. J

Sumber :                           http://anggayasha.wordpress.com/2008/10/28/beda-budaya-barat-dan-timur/